| Sunday, 21 October 2007 in Surya Newspaper Surabaya | |
| Oleh Dia Sofiarini Jl A Yani Surabaya Mencari teman satu arah dan tujuan supaya ada teman ngobrol sekaligus untuk jaga-jaga. Setidaknya ada teman kebingunganlah, karena menurut saya lebih baik bingung bersama daripada bingung sendirian. Makin banyak saja orang-orang yang tempat tinggalnya berbanding terbalik dengan tempatnya bekerja. Salah satunya adalah saya. Bekerja di Gresik tetapi tinggal di Surabaya, dan memutuskan untuk pergi-pulang alias tidak menetap di Gresik. Ketika pertama melakukan perjalanan sejauh hampir 20 km yang menghabiskan waktu sekitar satu jam, saya merasa kebingungan karena setelah sekian lamanya tidak naik kendaraan umum, hari itu saya harus naik bus dan diteruskan dengan naik bemo. Sebelumnya kemana-mana saya naik sepeda motor. Pernah saya coba sekali untuk mengendarai sepeda motor karena saya belum bisa mengendarai mobil, yang mengharuskan lewat jalan biasa bukan jalan tol, ternyata punggung capeknya bukan main. Belum lagi ketika melewati daerah Margomulyo serta Kalianak yang terkenal macet dan banyak kendaraan besar lalu-lalang. Hampir setiap hari terjadi kecelakaan di ruas jalan tersebut, mengingat frekuensi kendaraan mulai becak hingga truk tronton semakin padat pada pagi dan sore hari saat orang pergi dan pulang kerja. Akhirnya saya putuskan untuk naik bus kota yang disambung dengan bemo. Kalau saya sudah kelelahan bisa juga tidur dalam kendaraan, tetapi harus tetap waspada dengan segala kemungkinan termasuk tangan-tangan jahil alias copet. Akhir kata jadilah saya “Ovy Topan Anak Jalanan” (mengutip film yang sempat booming di era tahun 1980-an). Karena pergi-pulang ada di jalanan itulah yang membuat saya banyak berinteraksi dengan orang lain dan juga mendapatkan trik-trik untuk menghadapi mereka. Bagaimana saya pura-pura tidur ketika sudah kelelahan menanggapi omongan berlebihan orang di samping kita ketika sedang naik bus. Mencari teman satu arah dan tujuan supaya ada teman ngobrol sekaligus untuk jaga-jaga tentunya, maksudnya kalau ada kejadian tak terduga dalam bemo, kami bisa kabur bersama. Setidaknya ada teman kebingunganlah, karena menurut saya lebih baik bingung bersama daripada bingung sendirian. Saya pikir jarak yang saya tempuh selama ini sudah cukup jauh, ternyata di atas langit masih ada langit…. Masih banyak yang menempuh perjalanan lebih jauh dari yang saya lakukan setiap harinya. Meskipun begitu saya tak bisa menghindari untuk naik bemo, karena rute yang saya lalui harus disambung dengan bemo. Sebisa-bisanya saya berusaha untuk duduk di depan samping Pak Sopir yang sedang bekerja, mengendarai bemo supaya baik jalannya… (maaf ngelantur jadi seperti lagu Pada Hari Minggu). Tak lupa saya membawa payung setiap hari meski tidak hujan. Selain bisa melindungi saya dari terpaan panas dan hujan, juga bisa menjadi senjata ampuh pada saat dibutuhkan (untungnya belum pernah dan nggak mau saya alami). Selain itu saya juga selalu membawa parfum dalam bentuk spray kecil untuk jaga-jaga saja. Hm… belum pernah juga saya pakai untuk menyemprot mata orang yang berniat buruk pada saya di jalanan. Tenang, untuk yang ini saya pilih parfum yang murah-murah saja, karena kalau mahal saya juga tidak rela membuat penjahat itu jadi wangi sekali. Nanti bisa keenakan dong. |
Bus vs Bemo, Sedia Parfum Sebelum Kejadian
March 5, 2008 · 3 Comments
Categories: posted
ORANG-ORANG TUA
March 5, 2008 · Leave a Comment
Banyak orang bilang bahwa orangtua seperti guru
Guru yang wajib digugu dan ditiru
Ketika jaman masih berhiaskan tata krama
Bahwa orangtua bukan hanya ada dalam keluarga
Semua orang yang lebih tua adalah orangtua
Orangtua telah merasakan segala hal
Pahit manis kehidupan telah direguknya
Dengan semua pengalaman yang telah direngkuh
Menganggap dirinya lebih tahu dari siapapun juga
Terlebih pada para pemuda yang bisa berpikir
Tak pernah ada yang benar di mata mereka
Karena kebenaran tak ada yang memiliki
Meski terkadang malu untuk mengakui
Orangtua tak pernah boleh kalah
Karena mereka menang untuk segala hal
Categories: poems
PERISAI HATI
March 5, 2008 · Leave a Comment
Tiada terasa waktu telah berganti
Bergulir seiring irama hari
Memastikan diri untuk tetap berdiri
Aku telah di sini
Memutuskan apa yang selama ini kucari
Dan mengimani apa yang telah diberi
Ku haturkan terimakasih
Untuk segala yang telah diberi
Bahwa hati telah terpatri
Setelah dijalani
Kuputuskan untuk selami
Apa yang telah jadi pilihan diri
Categories: poems
SENJA KELABU
March 5, 2008 · Leave a Comment
Percikan api telah padam
Pada saat surya telah menengadah
Jalan setapak mulai berliku
Tapi tetap harus di jejak
Seribu langkah kaki melaju
Untuk terus berjalan selalu
Kibarkan semangat dalam diri
Agar kobaran api tetap membara
Kala langkah mulai tak sejalan
Padukan hati dan pikiranmu
Agar menemukan padanannya
Hingga jiwa tak terlalu luka
Tiada obat yang paling mujarab
Selain waktu yang teramat sangat cepat
Bergulir dan berganti
Di sepanjang hari
Categories: poems
a mistake
March 5, 2008 · Leave a Comment
Pertama kali dibuat terasa sesak
Kali kedua terpuruk
Berulang kali merasa berdosa
Satu persatu telah pergi
Coba tegak berdiri
Dalam iringan rohani
Sekilas tiada terampuni
Karena telah dijalani berulang kali
Hingga hilang rasa diri
Beribu maaf ku ucapkan
Untuk segala salah
Yang penuh noda
Categories: poems

