Ovy Soemardi

Bus vs Bemo, Sedia Parfum Sebelum Kejadian

March 5, 2008 · 3 Comments

Sunday, 21 October 2007 in Surya Newspaper Surabaya
Oleh
Dia Sofiarini
Jl A Yani Surabaya

Mencari teman satu arah dan tujuan supaya ada teman ngobrol sekaligus untuk jaga-jaga. Setidaknya ada teman kebingunganlah, karena menurut saya lebih baik bingung bersama daripada bingung sendirian.

Makin banyak saja orang-orang yang tempat tinggalnya berbanding terbalik dengan tempatnya bekerja. Salah satunya adalah saya. Bekerja di Gresik tetapi tinggal di Surabaya, dan memutuskan untuk pergi-pulang alias tidak menetap di Gresik.

Ketika pertama melakukan perjalanan sejauh hampir 20 km yang menghabiskan waktu sekitar satu jam, saya merasa kebingungan karena setelah sekian lamanya tidak naik kendaraan umum, hari itu saya harus naik bus dan diteruskan dengan naik bemo. Sebelumnya kemana-mana saya naik sepeda motor.

Pernah saya coba sekali untuk mengendarai sepeda motor karena saya belum bisa mengendarai mobil, yang mengharuskan lewat jalan biasa bukan jalan tol, ternyata punggung capeknya bukan main. Belum lagi ketika melewati daerah Margomulyo serta Kalianak yang terkenal macet dan banyak kendaraan besar lalu-lalang. Hampir setiap hari terjadi kecelakaan di ruas jalan tersebut, mengingat frekuensi kendaraan mulai becak hingga truk tronton semakin padat pada pagi dan sore hari saat orang pergi dan pulang kerja.

Akhirnya saya putuskan untuk naik bus kota yang disambung dengan bemo. Kalau saya sudah kelelahan bisa juga tidur dalam kendaraan, tetapi harus tetap waspada dengan segala kemungkinan termasuk tangan-tangan jahil alias copet. Akhir kata jadilah saya “Ovy Topan Anak Jalanan” (mengutip film yang sempat booming di era tahun 1980-an). Karena pergi-pulang ada di jalanan itulah yang membuat saya banyak berinteraksi dengan orang lain dan juga mendapatkan trik-trik untuk menghadapi mereka. Bagaimana saya pura-pura tidur ketika sudah kelelahan menanggapi omongan berlebihan orang di samping kita ketika sedang naik bus.

Mencari teman satu arah dan tujuan supaya ada teman ngobrol sekaligus untuk jaga-jaga tentunya, maksudnya kalau ada kejadian tak terduga dalam bemo, kami bisa kabur bersama. Setidaknya ada teman kebingunganlah, karena menurut saya lebih baik bingung bersama daripada bingung sendirian.
Saya sudah tidak merasa sendiri lagi karena dalam setiap perjalanan ternyata banyak orang yang memutuskan untuk pergi-pulang karena jarak tempat kerja dengan rumah tidak bisa dibilang dekat. Ada ibu setengah baya yang bekerja di Gresik dan bertempat tinggal di daerah Demak, disusul dengan seorang bapak berumur 45-an yang bekerja di Perak yang bertemu saya di dalam bus kota jurusan Bungurasih dan hendak pulang ke rumahnya di daerah Jombang.

Saya pikir jarak yang saya tempuh selama ini sudah cukup jauh, ternyata di atas langit masih ada langit…. Masih banyak yang menempuh perjalanan lebih jauh dari yang saya lakukan setiap harinya.
Kalau disuruh memilih antara bus atau bemo, saya lebih menyukai naik bus yang melewati rute jalan utama Surabaya karena menurut saya lebih aman, dan ruangnya lebih luas daripada bemo. Kadang-kadang ngeri juga membaca berita mengenai kejahatan yang terjadi di bus kota Jakarta. Sejauh ini, alhamdullilah belum ada kejadian-kejadian yang membahayakan. Kalau yang mencurigakan sering ada tetapi tidak terlalu fatal bagi saya. Yang penting adalah selalu siaga dan tanggap akan keadaan di sekitar.

Meskipun begitu saya tak bisa menghindari untuk naik bemo, karena rute yang saya lalui harus disambung dengan bemo. Sebisa-bisanya saya berusaha untuk duduk di depan samping Pak Sopir yang sedang bekerja, mengendarai bemo supaya baik jalannya… (maaf ngelantur jadi seperti lagu Pada Hari Minggu).

Tak lupa saya membawa payung setiap hari meski tidak hujan. Selain bisa melindungi saya dari terpaan panas dan hujan, juga bisa menjadi senjata ampuh pada saat dibutuhkan (untungnya belum pernah dan nggak mau saya alami). Selain itu saya juga selalu membawa parfum dalam bentuk spray kecil untuk jaga-jaga saja.

Hm… belum pernah juga saya pakai untuk menyemprot mata orang yang berniat buruk pada saya di jalanan. Tenang, untuk yang ini saya pilih parfum yang murah-murah saja, karena kalau mahal saya juga tidak rela membuat penjahat itu jadi wangi sekali. Nanti bisa keenakan dong.
Biarpun menurut saya Surabaya tidaklah sebegitu parah tingkat kejahatannya dibandingkan Jakarta, namun tidak ada salahnya kan untuk tetap waspada dan membekali diri dengan berbagai “peralatan perang”.

Categories: posted

3 responses so far ↓

  • V66 // March 9, 2008 at 3:31 pm

    Sip Vy….jaga-jaga itu penting.
    Persiapkan sebelum ada kejadian.
    Kalo dah ada kejadian entar biasanya nyesel.
    Ok Goodluk and be carefull lewat jalan surabaya gresik.
    asli kalo lewat situ saya stress banget. waktu ngerjain Skripsi disalah satu perusahaan di gresik.

  • nana // March 27, 2008 at 7:56 am

    wooow…….kereeeeeeen…
    applause sepuluh jari deh…eh lebih deh
    bagus mba ovie..katae msuk koran jg ya..wah kayak’e bakal ada penerus ayu utami and penulis2 gender yg lain ni…
    awsome lah…
    bkin yg lebih menantang mba…btw butuh parfum…tenang nana bnyk persediaan..palagi buat copet2 biar mereka ganti profesi jadi juragan parfum ae….hehehehehe
    GooDLuck y mba buat kerja, and tulisannya..moga makin tercipta kreasi2 tulisan yg awsome dr tgn mba ovie
    hehehe salam deh buat copetny, bilang dr orang caem……^_* hihihihi

  • olvy // March 27, 2008 at 9:22 am

    @ cak avy : sipp juga deh…ma rerenya maksudku..;) *larii..*
    @ nana : wah kalo boleh kutebak ini nananya faris ya?? *maap kalo salah* seneng banget nana dah mampir ke blog ku ;)
    ehm..ehm tulisanku ya cuma gitu aja kok *sok merendah padahal GR abiss uhuk..uhuk-butuh ember untuk muntah*
    cita2 memang jadi penulis cuman masih harus banyak latihan *cara ngeles jadul banget (baca : sok cool..[kas] wakakakk)*
    salam balik dari jendral copet *huaa..kabuurr*

Leave a Comment