Ovy Soemardi

Kejadian-kejadian yang membawaku ke kantor polisi

June 2, 2009 · 7 Comments

apa perlunya sih kita ke kantor polisi?

pada umumnya sih kalo ga ngurus SIM (Surat Izin Mengemudi) ya ngurus SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian)

tapi kalo urusan kasus-kasus yang mengharuskan kita datang ke kantor polisi maka aku telah menjejakkan kaki setidaknya 2 kali seumur hidup *dan ga pengen lagi ah* begini ceritanya :

1. Kejadiannya pada saat menginjak semester ke 4 di tahun 2003 waktu kuliah n sedang mengadakan acara teater di daerah Blitar. Kita serombongan mahasiswa berjumlah kurang lebih 20 orang dengan komposisi laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan perempuan, mengakhiri acara tersebut dengan pulang kembali ke Surabaya menumpang *bayar lho, ga cuman numpang hehew* kereta api dan duduk manis di gerbong terakhir.

Tidak  lama setelah kami menempati tempat duduk masing-masing, aku sempet bingung  juga hendak menempatkan pantat coz banyak bangku yang kosong sih. Maunya sih duduk  di bangku tiga depannya Jupe *nama aslinya Juventius  n Julia Perez a.k.a Jupe kayaknya belum ngetop deh hehew* coz view di jendelanya baguss, namun kuurungkan coz mending duduk di bangku dua ma temen cewek persis di sebelahnya Jupe.

Setelah itu ada cowok yang dengan nyantenya minta duit ma Jupe..

+ Bagi duit dong!! *tentunya dengan nada maksa bukan lebay dong ^^*

- Maaf, ga ada Mas

+ *berpikir sejenak* kalo gitu minta rokok!!

- Maaf, ga ada juga Mas *emang Jupe lagi ga ada rokok*

+ Gimana sih, apa-apa kok ga punya *mencengkeram kerah baju Jupe dengan marahnya*

+ Woii..tunggu kok jadi kasar, maaf Mas, emang saya ga punya, kok Mas nya malah marah-marah *jawab Jupe tanpa perlawanan sama sekali*

karena gaduh, beberapa temen2 cowok kami pun bereaksi dan mendekati untuk melerai dan bukannya mau niat mengeroyok lho yaa…mungkin juga oknum cowok tadi kaget didatangi beramai-ramai, dia langsung kabur sambil menyumpah-nyumpah “Awas yo koen engkok” (Awas ya kamu nanti) 

Kita semua berpikir semuanya sudah selesai dan kami berniat menikmati perjalanan pulang kami karena latihan fisik teater yang baru kami lakukan tadi pagi amat menguras tenaga. Eh ga tahunya datanglah segerombolan preman dengan muka yang sangar *sumpah ga ada yang lucu n culun*dan setengah mabuk *ketahuan dari muka n bau mulutnya yang ga banget* mencari-cari Jupe dan berniat mengeroyoknya.

Akhirnya terjadilah perkelahian yang memaksa kita untuk mempertahankan diri dengan segala cara. Berhubung pihak lawan mabuk, kita serasa pengen ikutan mabuk juga, soalnya orang mabuk ga ada kira-kiranya kalo mukul..bak..buk..bak..buk, kalo kita yang masih sadar kan pasti masih mikir kalo mukul seenak udelnya.

Para penumpang umum pun segera pindah ke gerbong lainnya sambil teriak kayak gini nih ‘bukan mahasiswa..bukan mahasiswa’ agar terhindar dari hajaran preman ngamuk tadi. Karena alasan gender juga, ke 11 teman2 cowok anggota teater kami harus berjibaku dengan 20 preman sangar yang hebatnya di saat mereka berkelahi, para preman tersebut sempet-sempetnya pake acara nyopet korban yang ditawurnya tersebut yang mana tiada lain tiada bukan adalah temen-temenku sendiri.

Kami para perempuan di gerbong yang lain sekuat tenaga memberitahukan kejadian tidak adil ini pada kondektur supaya dia memberitahukan masinis agar menghentikan lajunya kereta. Aku sendiri dengan sibukny amencoba menghubungi 199 yang kala itu diklaim sebagai nomer telpon untuk memanggil polisi *asal tau aja kalo iklannya kala itu yg terpampang besar di salah satu sudut jalan protokol Surabaya itu amat sangat membuatku keki.bunyinya cuma tut..tut..tut.. *positive thinking aja kalo salurannya penuh tapi itu ga seberapa membantu coz aku teteup keki n langsung menghubungi kakak ku yang ada di rumah untuk menghubungi polisi di daerah sekitar Tulungagung tempat kereta api sedang berjalan.

Akhirnya setelah kereta berhenti mendadak secara ekstrem…temen2 cowok yang sudah babak belur ditambah dengan kehilangan jam tangan maupun dompetnya pada waktu pengeroyokan terjadi *buset ga tuh…sempet2nya gituh* segera dilarikan ke rumah sakit dan kantor polisi terdekat untuk melaporkan kejadian heboh tadi. Praktis, kami semua tidur di depan teras kantor polisi beralaskan koran maupun tidur di bangku2 panjang sambil menunggu giliran untuk memberikan kesaksian.

Keesokan harinya, wajah kita pun nongol dengan pasrahnya di koran *tapi waktu itu belum kepikiran untuk mendokumentasikannya. Teman-teman dari Surabaya pun berdatangan untuk memberikan bala bantuan, termasuk Pembantu Dekan III urusan kemahasiswaan…karena temen2 cewek termasuk diriku tidak ikut berkelahi maka diputuskan boleh pulang oleh pihak yang berwajib. Alhamdulillah leganya…hore…aku udah kangen banget sama rumah neh, meskipun sesampainya di Surabaya selama seminggu lebih mulutku jadi berbusa coz harus menjelaskan kejadian diatas dari awal sampe akhir pada setiap orang yang menanyakannya…

 

(to be continued)

Categories: dear diary

7 responses so far ↓

Leave a Comment