| Taman Kota Idaman | ![]() |
![]() |
![]() |
| Posted in Surya Newspaper, Sunday, 13 July 2008 | |
| Lima belas tahun yang lalu, di masa kecilku aku sangat mengharapkan bisa bermain di sebuah taman kota yang kala itu belum ada di kota tercinta: Surabaya. Dalam beberapa tahun terakhir ini, warga Surabaya termasuk aku tentunya, pantas untuk bergembira karena taman-taman kota mulai bermunculan dan makin eksis di kota Surabaya.Salah satunya adalah Taman Bungkul yang sering menjadi tempat jujugan untuk berkumpul dan bersosialisasi dalam hal positif tentunya, mengingat seringkali kata ‘taman’ selalu dikaitkan dengan konotasi negatif.Adalah salah satu khayalanku dimana membayangkan sebuah taman yang menyediakan fasilitas bermain untuk anak-anak yang mengedepankan permainan jadul (zaman dulu) kita masih kanak-kanak dulu, seperti gobak sodor, engkle, benteng-bentengan, dan sebagainya. Hal ini dilakukan dalam rangka melestarikan permainan jadul tersebut, mengingat sudah tidak banyak permainan tradisional yang sebenarnya menyehatkan itu jarang dimainkan oleh generasi di masa sekarang.
Taman Bungkul Surabaya adalah salah satu contoh taman yang berusaha mengakomodasi semua kebutuhan masyarakatnya dalam satu area yang dirasa tidak cukup luas oleh sebagian kalangan tentunya. Terutama untuk area taman bermain yang mungkin membuat para anak-anak berebut mainan yang ada di situ, oh… alangkah senangnya membayangkan taman di depan Dolog yang rencananya memang dibuat khusus untuk taman bermain, menyediakan juga ruang-ruang sekaligus sarana untuk dapat melakukan permainan jadul kita. Dijamin taman kota tersebut akan ramai tidak hanya penuh oleh anak-anak kecil, namun juga tak kalah banyak orang dewasa yang akan bernostalgia bermain sembari mengajari anak-anak, tetangga, keponakan, atau adik mereka masing-masing. Semuanya berkeringat, pasti sehat dan senang tentunya. Nah, daripada saya membayangkannya sampai terbawa mimpi, maka saya putuskan untuk membuat event sendiri bersama teman-teman untuk melakukan permainan tersebut. Selain bisa juga untuk olahraga tentunya. Dan bisa dipastikan bahwa ketika kami melakukan permainan jadul kami tersebut, pasti semua orang yang melihat kami akan berkata, “Masa kecil kurang bahagia.” Oleh: Dia Sofiarini |




