Ovy Soemardi

Entries categorized as ‘posted’

Taman Kota Idaman

July 15, 2008 · 3 Comments

Taman Kota Idaman Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Posted in Surya Newspaper, Sunday, 13 July 2008 
Lima belas tahun yang lalu, di masa kecilku aku sangat mengharapkan bisa bermain di sebuah taman kota yang kala itu belum ada di kota tercinta: Surabaya. Dalam beberapa tahun terakhir ini, warga Surabaya termasuk aku tentunya, pantas untuk bergembira karena taman-taman kota mulai bermunculan dan makin eksis di kota Surabaya.Salah satunya adalah Taman Bungkul yang sering menjadi tempat jujugan untuk berkumpul dan bersosialisasi dalam hal positif tentunya, mengingat seringkali kata ‘taman’ selalu dikaitkan dengan konotasi negatif.Adalah salah satu khayalanku dimana membayangkan sebuah taman yang menyediakan fasilitas bermain untuk anak-anak yang mengedepankan permainan jadul (zaman dulu) kita masih kanak-kanak dulu, seperti gobak sodor, engkle, benteng-bentengan, dan sebagainya. Hal ini dilakukan dalam rangka melestarikan permainan jadul tersebut, mengingat sudah tidak banyak permainan tradisional yang sebenarnya menyehatkan itu jarang dimainkan oleh generasi di masa sekarang.

Taman Bungkul Surabaya adalah salah satu contoh taman yang berusaha mengakomodasi semua kebutuhan masyarakatnya dalam satu area yang dirasa tidak cukup luas oleh sebagian kalangan tentunya. Terutama untuk area taman bermain yang mungkin membuat para anak-anak berebut mainan yang ada di situ, oh… alangkah senangnya membayangkan taman di depan Dolog yang rencananya memang dibuat khusus untuk taman bermain, menyediakan juga ruang-ruang sekaligus sarana untuk dapat melakukan permainan jadul kita.

Dijamin taman kota tersebut akan ramai tidak hanya penuh oleh anak-anak kecil, namun juga tak kalah banyak orang dewasa yang akan bernostalgia bermain sembari mengajari anak-anak, tetangga, keponakan, atau adik mereka masing-masing. Semuanya berkeringat, pasti sehat dan senang tentunya.

Nah, daripada saya membayangkannya sampai terbawa mimpi, maka saya putuskan untuk membuat event sendiri bersama teman-teman untuk melakukan permainan tersebut. Selain bisa juga untuk olahraga tentunya. Dan bisa dipastikan bahwa ketika kami melakukan permainan jadul kami tersebut, pasti semua orang yang melihat kami akan berkata, “Masa kecil kurang bahagia.”

Oleh: Dia Sofiarini
Surabaya
diasfrn@yahoo.com Alamat e-mail ini telah dilindungi dari tindakan spam bots, Anda butuh Javascript dan diaktifkan untuk melihatnya

Categories: posted

Bus vs Bemo, Sedia Parfum Sebelum Kejadian

March 5, 2008 · 3 Comments

Sunday, 21 October 2007 in Surya Newspaper Surabaya
Oleh
Dia Sofiarini
Jl A Yani Surabaya

Mencari teman satu arah dan tujuan supaya ada teman ngobrol sekaligus untuk jaga-jaga. Setidaknya ada teman kebingunganlah, karena menurut saya lebih baik bingung bersama daripada bingung sendirian.

Makin banyak saja orang-orang yang tempat tinggalnya berbanding terbalik dengan tempatnya bekerja. Salah satunya adalah saya. Bekerja di Gresik tetapi tinggal di Surabaya, dan memutuskan untuk pergi-pulang alias tidak menetap di Gresik.

Ketika pertama melakukan perjalanan sejauh hampir 20 km yang menghabiskan waktu sekitar satu jam, saya merasa kebingungan karena setelah sekian lamanya tidak naik kendaraan umum, hari itu saya harus naik bus dan diteruskan dengan naik bemo. Sebelumnya kemana-mana saya naik sepeda motor.

Pernah saya coba sekali untuk mengendarai sepeda motor karena saya belum bisa mengendarai mobil, yang mengharuskan lewat jalan biasa bukan jalan tol, ternyata punggung capeknya bukan main. Belum lagi ketika melewati daerah Margomulyo serta Kalianak yang terkenal macet dan banyak kendaraan besar lalu-lalang. Hampir setiap hari terjadi kecelakaan di ruas jalan tersebut, mengingat frekuensi kendaraan mulai becak hingga truk tronton semakin padat pada pagi dan sore hari saat orang pergi dan pulang kerja.

Akhirnya saya putuskan untuk naik bus kota yang disambung dengan bemo. Kalau saya sudah kelelahan bisa juga tidur dalam kendaraan, tetapi harus tetap waspada dengan segala kemungkinan termasuk tangan-tangan jahil alias copet. Akhir kata jadilah saya “Ovy Topan Anak Jalanan” (mengutip film yang sempat booming di era tahun 1980-an). Karena pergi-pulang ada di jalanan itulah yang membuat saya banyak berinteraksi dengan orang lain dan juga mendapatkan trik-trik untuk menghadapi mereka. Bagaimana saya pura-pura tidur ketika sudah kelelahan menanggapi omongan berlebihan orang di samping kita ketika sedang naik bus.

Mencari teman satu arah dan tujuan supaya ada teman ngobrol sekaligus untuk jaga-jaga tentunya, maksudnya kalau ada kejadian tak terduga dalam bemo, kami bisa kabur bersama. Setidaknya ada teman kebingunganlah, karena menurut saya lebih baik bingung bersama daripada bingung sendirian.
Saya sudah tidak merasa sendiri lagi karena dalam setiap perjalanan ternyata banyak orang yang memutuskan untuk pergi-pulang karena jarak tempat kerja dengan rumah tidak bisa dibilang dekat. Ada ibu setengah baya yang bekerja di Gresik dan bertempat tinggal di daerah Demak, disusul dengan seorang bapak berumur 45-an yang bekerja di Perak yang bertemu saya di dalam bus kota jurusan Bungurasih dan hendak pulang ke rumahnya di daerah Jombang.

Saya pikir jarak yang saya tempuh selama ini sudah cukup jauh, ternyata di atas langit masih ada langit…. Masih banyak yang menempuh perjalanan lebih jauh dari yang saya lakukan setiap harinya.
Kalau disuruh memilih antara bus atau bemo, saya lebih menyukai naik bus yang melewati rute jalan utama Surabaya karena menurut saya lebih aman, dan ruangnya lebih luas daripada bemo. Kadang-kadang ngeri juga membaca berita mengenai kejahatan yang terjadi di bus kota Jakarta. Sejauh ini, alhamdullilah belum ada kejadian-kejadian yang membahayakan. Kalau yang mencurigakan sering ada tetapi tidak terlalu fatal bagi saya. Yang penting adalah selalu siaga dan tanggap akan keadaan di sekitar.

Meskipun begitu saya tak bisa menghindari untuk naik bemo, karena rute yang saya lalui harus disambung dengan bemo. Sebisa-bisanya saya berusaha untuk duduk di depan samping Pak Sopir yang sedang bekerja, mengendarai bemo supaya baik jalannya… (maaf ngelantur jadi seperti lagu Pada Hari Minggu).

Tak lupa saya membawa payung setiap hari meski tidak hujan. Selain bisa melindungi saya dari terpaan panas dan hujan, juga bisa menjadi senjata ampuh pada saat dibutuhkan (untungnya belum pernah dan nggak mau saya alami). Selain itu saya juga selalu membawa parfum dalam bentuk spray kecil untuk jaga-jaga saja.

Hm… belum pernah juga saya pakai untuk menyemprot mata orang yang berniat buruk pada saya di jalanan. Tenang, untuk yang ini saya pilih parfum yang murah-murah saja, karena kalau mahal saya juga tidak rela membuat penjahat itu jadi wangi sekali. Nanti bisa keenakan dong.
Biarpun menurut saya Surabaya tidaklah sebegitu parah tingkat kejahatannya dibandingkan Jakarta, namun tidak ada salahnya kan untuk tetap waspada dan membekali diri dengan berbagai “peralatan perang”.

Categories: posted